Google

ASEANAFFAIRS
Sign up | Log in

    ASEAN PROFILES

  ASEAN KEY DESTINATIONS

BALI: PERANG DEWATA DAN RAKSASA

Sangat banyak sebutan yang diberikan untuk pulau resort Bali yang terkenal di Rusia, misalnya, Pulau Dewata, Pulau Bantem ataupun Sorga Tropis.
Memang semua sebutan itu tepat jika mempertimbangkan satu per satu aspek-aspek kehidupan di Bali. Namun, sebutan itu bisa juga tidak tepat, jika kita mencoba menemukan identitas tersendiri pulau Bali. Sebenarnya Jawaharlal Nerhu, Perdana Menteri India Merdekalah yang pertama menemukan kekhasan istimewa Bali dan menjuluki pulau cilik ini sebagai "Fajar Agama Hindu" (Indonesia salah satu negeri berpenduduk terbanyak di dunia dengan lebih dari 200 juta orang penganut Islam)

Agama kuno ini begitu mendarah daging di hati sanubari masyarakat  Bali sehingga  menjadi bagian kehidupan mereka yang tak terpisahkan. Kiranya, di manapun di dunia ini keharmonisan antara lingkungan dan manusia tidak mendapat curahan perhatian yang begitu banyak, seperti halnya di Bali.
Karenanyalah lahir citra Bali sebagai sorga bagi wisatawan.

Namun demikian satu kesatuan antara manusia dan lingkungan yang tak terpisahkan di Pulau Dewata ini kini terancam bahaya yang begitu besar  sehingga timbul kesangsian apakah bisa melestarikan Pulau Dewata tanpa merongrong keasliannya.

Ancaman utama keharmonisan masa lalu itu justru karena melubernya aliran wisatawan yang dicita-citakan sejak dulu. Bayangkan, tahun ini Indonesia menargetkan menerima 5,5 juta tamu asing, yang kebanyakan akan berkunjung ke Bali.

Agung Prana, penasihat Gubernur Bali bidang kebudayaan dan pariwisata berujar: "Saya tahu beberapa kejadian bahwa bungalo yang sangat laris disewa para turis asing karena suasana ketenangan dan keharmonisan di sana. Setelah rejekinya banyak, para pemiliknya merombak bungalo dengan gaya moderen. Akibatnya justru mereka lansung kehilangan sumber pencahariannya".

Agung Prana dilahirkan tahun 1948 di desa Umabian di jantung pulau Bali, berasal dari keluarga ningrat yang pernah mengalami kebangkrutan. "Dulu di situ cuma ada ladang dan palem, tidak ada yang lain" - dia tersenyum tipis, - Nah, saya ingat benar 'Bali yang tidak tersentuh", sekarang saya merasa kehilangannya. 

Meskipun demikian Agung Prana sama sekali bukan tidak setuju dengan kenyamanan dan fasilitas moderen. Di vila-vila miliknya hal itu terjamin sepenuhnya. Hanya saja, menurutnya, yang penting adalah pendekatan menyeluruh. Demikian pendapat seorang keturunan kerajaan Mengwi yang dulu terletak di pusat pulau ini.

"Hotel-hotel seharusnya bukan saja ramah lingkungan, - tegasnya,  - melainkan juga diperlukan pendekatan dari sudut ekologi yang terpadu dengan pendekatan sosial budaya yang tak kurang seksama harus dipertimbangkan. Tentu saja harus memperhatikan tradisi setempat."

Seninya hidup di daerah khatulistiwa
Hidup di daerah khatulistiwa merupakan justru suatu seni yang harus dipelajari dari awal. Karena pengalaman lain sebelumnya tidak akan membantu untuk hidup di sana.

Para wisatawan Rusia sering mengira bahwa mengenal Bali dimulai dengan tinggal seminggu di hotel Laguna Nusa Dua yang berlokasi di resort turis semacam reservasi, yang terasing sama sekali dari kawasan lain pulau ini. Kemudian pindah ke Hotel Rits Carlton untuk seminggu lagi, yang lokasinya di tempat itu juga.
Agung Prana, yang telah menjadi kenalan baik kami berkata: "Pariwisata seharusnya didasarkan pada masyarakat lokal. Sekarang di Nusa Dua berdiri hotel-hotel berbintang lima yang sepenuhnya terisolasi dari penduduk setempat", - lanjutnya - "apa mereka yang berkunjung ke sana dapat memahami kebudayaan Bali?"
Prinsip dasar arsitektur tradisional Bali dapat dirumuskan sebagai berikut: "ruang terbuka semaksimal mungkin, tenda-tenda yang melindungi dari sinar matahari dan tidak menghalangi semilirnya angin yang bertiup, cuma tempat tidur di ruang tertutup." Sebagai misal, istana raja Bali justru dibangun begitu. Namun di mana bisa dicari tempat untuk ruang terbuka di lokasi hotel berbintang lima yang tampak seperti asrama militer dan telah berdiri di Nusa Dua? Begitu keluar pintu kamar pun, langsung berhadapan dengan pintu kamar nomor lain. 

Hotel Bintang Lima Tetapi Tidak Seperti Asrama Tentara
Jalan Buntu? Sama sekali bukan.  Sebenarnya di pulau Dewata sudah lama ditemukan jalan keluar dari situasi ini dan banyak tamu sudah tahu betul tentang hal ini.  Jawabannya sederhana dan terkandung dalam beberapa kata saja: vila bintang lima milik pribadi.

Di pulau Dewata ada vila yang sesuai dengan selera siapapun.
Yang paling mewah adalah vila yang didirikan oleh Agung Prana di lokasi Seminyak di sekitar Nusa Dua dan bandara Vila Bali.

Ada vila yang agak sederhana yang dapat disewa dengan harga $ 25 per hari tidak pada musim turis. Memang, dengan harga yang begitu murah sama sekali tidak bisa berharap mendapat layanan seperti di hotel bintang lima, juga tidak ada jaminan akan hidup tenang di lokasi vila yang disewa. Toh, di sini bisa sepenuhnya terjamin untuk tidak berpapasan terus menerus dengan turis-turis yang berjubel.

Kalaupun terpaksa mau berganti suasana untuk pindah dari satu hotel ke hotel lain, maka sebaiknya pindah ke pegunungan Ubud, pusat seni budaya yang tua, bukannya ke pesisir lain yang penuh dengan wisatawan. Belakangan ini di sini bermunculan semakin banyak hotel yang mencontoh konsep "vila bintang lima".
Salah satu contoh yang terbaik adalah Hotel Ubud Hanging Garden milik jaringan Orient Express yang bergengsi. Hotel ini baru dua tahun lalu  diresmikan dan berlokasi di dekat desa Melingih yang aman tenteram agak jauh dari aliran para turis. Vila yang jumlahnya 38 ini berlokasi di tempat terpencil yang dapat ditempuh dengan skylift dan masing-masing memiliki kolam renang sendiri. Kalau mau dapat menggunakan kolam renang besar bertingkat banyak yang bergantung di atas jurang, dimana kita bisa menikmati pemandangan indah dan Pura Bali yang berdiri menghadap ke kolam renang itu.

Tetapi, puncak seni arsitektur justru diciptakan dan dibangun oleh orang Bali sendiri. Dalam hal ini adalah Hotel Royal Pita Maha yang baru milik keluarga raja Ubud.

Perbincangan dengan Sang Pangeran
Kami sedang berbincang-bincang dengan Sang Pangeran Tjokorda tentang musik moderen maupun tradisional sambil duduk-duduk di kursi berukir tua di beranda paviliun Puri Ubud.

"Musik adalah suara jiwa kita - demikian renungan yang diucapkan teman bicara saya. Anda bilang bahwa musik rock itu adalah 'folk' kota besar, bahwa musik itu menggantikan lagu rakyat bagi warga kota yang lahir di pedesaan dan sudah tidak lagi sesuai dengan ritme orang kota. Tetapi ritme musik tradisonal Bali jauh lebih pelik lagi. Bagaimana bisa anak-anak moderen zaman sekarang menilai gamelan sepatutnya?

Saya diperkenalkan kepada Pangeran Tjokorda oleh Agung Prana karena baik ibu maupun nenek Tjokorda berasal dari Mengwi cikal bakal dinasti tua yang telah lama bertalian darah satu sama lain.

Bagaimana melindungi dan melestarikannya? - demikian renung tuan rumah - apa seharusnya langkah-langkah kami, supaya walaupun wisatawan dari mancanegara meluber, kami dan mereka terus menikmati suara nyanyian burung-burung yang berkicau-kicauan? Sering anak-anak muda membangkang menuntut perubahan dengan cara dan jalan apappun. Kami kok punya target melestarikan yang sudah ada.

Betapapun kontroversialnya, akan tetapi justru pariwisatalah yang efesien untuk melestarikan baik kebudayaan tradisional maupun lingkungan hidup yang sekarang terancam bahaya kepunahannya. Begitu anggapan Agung Prana beserta teman-temannya yang sepaham.

Susunan masyarakat berbentuk piramida adalah model warisan nenek moyang - ujar Tjokorda. Di puncak piramid itu berada 'puri' yang harus selalu meneruskan tradisi kebudayaan. Puri ini sejenis titian dari masa lampau. Sekarang Indonesia berbentuk republik dan kalau ingin bertahan hidup, maka harus bertindak yang berguna.

Karena itu, apa lagi dewasa ini pada abad ke-21, saling keterkaitan antara 'puri' dan budaya tradisional sangat berharga. Di mana ada puri di situ juga terpelihara budaya tradisional. Tidak hanya karena puri memberikan pekerjaan kepada para seniman, tetapi juga di situ para peminatnya hidup dan mengajari yang lain. Sehingga selain dari hal-hal lain 'puri' masih terus merupakan sumber ilham.

Betapapun anehnya, Ubud yang bergunung-gunung ini menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang pertama, yang sudah eksis pada tahun 30-an abad yang lalu. Lebih-lebih ini semua berkat usaha raja-rajanya yang mengundang Walter Spies, umpamanya. Hanya saja, tidaklah banyak yang tahu bahwa cikal bakal modernisasi kebudayaan Bali ini lahir di kota Moskow. Walter Spies pada tahun 1926 dari Kraton Sultan Yogyakarta di Jawa hijrah ke pulau Bali.

Bukan Walter Spies saja yang diundang, ada juga yang lainnya. Walter Spies sendiri bahkan mengundang kenalannya dari negeri-negeri Barat juga, seperti Carly Caplin yang datang bertamu menginap di sekitar Ubud.

Di Ubudlah kesenian Bali melepaskan belenggunya. Sebelumnya, para seniman pencipta karya seni menyembunyikan nama-nama mereka. Karena itulah lukisan, patung bahkan buku karya sastra tidak pernah ada tanda tangan si pencipta, - kenang Tjokorda, - Dulu di Bali tidak ada sama sekali pengertian seperti 'pelukis', bahkan tidak ada istilah seperti itu. Semuanya lahir dari hati sanubari dan berkarya seni merupakan korban persembahan kepada dewa dewi. 'Puri' Ubud membuka dirinya untuk masyarakat dan pelukis asing, tetapi konsep senirupanya berdasarkan pada tradisi kebudayaan lama. Hal itulah yang membantu masyarakat sendiri untuk menjadi terbuka pada pengaruh baru. Pada saat masyarakat mulai bergejolak 'purilah' menyelamatkan dan melestarikan adikarya dan dengan demikan museum-museum mulai bermunculan. Sudah pada tahun 50-an puri menjadi tempat pendidikan dan hiburan bagi masyarakat. Kami tidak boleh ketinggalan zaman. Kini vila yang diperlukan maka kami mendirikan Pita Maha. Kami memperlihatkan kekhasan Bali yang istimewa mulai dari masakan-masakan Bali sampai lukisan-lukisan pada dinding. Nah Royal Pita Maha telah menjadi campuran minimalisme dan tradisi kebudayaan. Orang Bali memiliki rasa keindahan yang istimewa yaitu keinginan memadukan suatu bangunan dengan lingkungan sebagai satu keseluruhan telah menjadi darah daging orang Bali. Hal ini sama dengan pilihan cara penyinaran sebuah patung sehingga lahir perasaan keharmonisan yang menakjubkan.

Meskipun demikian 'puri' masih terus memainkan peranan sebagai pusat pendidikan kebudayaan tradisional. Hal itu bisa dipahami dengan lebih mendalam ketika berkunjung ke sana untuk melihat salah satu latihan tari tradisional anak-anak setempat. Jumlah anak-anak yang mengikuti latihan itu mencapai 500 orang dan umurnya berbeda-beda.

Semakin dini mereka memulai latihan, semakin baik, - ujar Sang Pangeran - Dengan demikian kesenian Bali dapat bertumpu pada pondamen yang kuat.

Revitalisasi terumbu karang dengan listrik
Di sebuah desa nelayan kecil yang letaknya di ujung barat laut pulau Bali sedang dilakukan revitalisasi karang.

Kubah-kubah berbentuk ganjil yang memanjang sampai ratusan meter jauhnya, "topi Mexiko", terowongan-terowongan, "jamur" merupakan sebuah proyek yang paling berhasil untuk merevitalisasi batu-batu karang dan yang mendapat sebutan Karang Lestari.

Ketika kami mulai melaksanakan proyek ini, di sini sudah tidak ada lagi bukan saja terumbu karang melainkan ikanpun tidak ada, - tutur Narayana, seorang menejer proyek tersebut. Narayana ini adalah mantan 'hippy' yang meninggalkan AS waktu perang Vietnam. Dia bertahun-tahun berkeliling mengembara di negeri-negeri lain di Timur sampai waktu dia tiba ke pulau Bali. Sekarang dia nyaris lupa namanya sendiri Randel Dodge yang pernah diberikan kepada seorang anak laki-laki ini yang lahir di negara bagian Nebraska AS.

Banyak orang yang telah mendapat pendidikan bagus hingga kini masih belum menyadari pentingnya terumbu karang di planit kita. Apa lagi para nelayan di desa-desa Indonesia.

Ikan di sini diledakkan, diracuni dengan persenyawaan kalium dan sianida yang  menghancurkan batu karang juga, - tutur Narayana.

Terumbu karang tumbuh hanya setengah senti setahun meskipun  dalam keadaan yang paling menguntungkan. Kembali ke tempat asalnya karang sendiri tidak bisa sama sekali karena limbah dan buangan sampah rumah dari pantai pulau yang semakin banyak mengalir ke laut. Walaupun begitu, proyek tehnologi yang direkayasa oleh Goreau dan seorang arsitek Jerman Wolf Hilberts tidak hanya mempercepat tumbuhnya terumbu karang berlipat-lipat, tapi juga membuatnya lebih tahan terhadap stres.

Sebagaimana banyak penemuan masa kini, penemuan ini lahir di batas pembauran berbagai-bagai ilmu pengetahuan. Ternyata bahwa kalau transmisi aliran listrik yang tidak kuat ke konstruksi logam berbentuk terali yang direkayasa oleh para arsitek, maka proses pembentukan zat-zat lapisan persenyawaan batu gamping/kapur sangat dipercepat di mana karang paling baik tumbuhnya.

Pecahan terumbu karang entah apa penyebab yang sedang dicari oleh para sukarelawan dan ditransliterasikan ke terali tersebut, mulai cepat tumbuh. Lebih dari pada itu transmisi aliran listrik memperkokoh terumbu karang yang sudah ada dan entah dengan cara bagaimanapun juga mendorong pertumbuhannya sehingga karang ini tidak saja mulai cepat tumbuh pada konstruksi-konstruksi itu sendiri di mana ada aliran listrik tetapi juga di sekitarnya… Karang terus hidup dan tumbuh bahkan di air keruh sekalipun sampai listirik tidak dimatikan.

Kami siap melakukan itu juga di tempat yang lain lagi. Akan tetapi, - demikian keluhan Narayana, - puluhan juta dollar di seluruh dunia dikeluarkan untuk menciptakan system pemantauan batu karang. Uang itu diberikan kepada organisasi pencinta profesional lingkungan yang sangat birokratis dan canggung. Namun, pemantauan terumbu karang saja sudah kedaluwarsa. Sudah lama tepat waktu untuk memulihkannya.

Sejak awal Proyek Karang Lestari mulai diwujudkan atas dana sumbangsih perseorangan. Begitu juga sampai dewasa ini meskipun ada banyak penghargaan organisasi internasional pencinta lingkungan hidup. Selain antusiasme para peserta proyek yang datang dari berbagai pelosok dunia untuk mendirikan serta menempatkan kerangka logam di laut, sumbangsihnya yang tak seberapa banyak, dana yang ditanamkan di proyek ini juga adalah dana para pemilik obyek wisata di sekitarnya.

Pada saat ketika saya ikut melaksanakan proyek ini desa Pemuteran telah menjadi salah satu desa yang termiskin di Bali. Karena ikan tidak ada lagi sedangkan tanah di sini tidak cocok untuk bercocok tanam, - tutur Agung Prana. - Sejak awal saya sadar bahwa apapun takkan tercapai kalau rintisan ini tidak   didukung masyarakat lokal. Batu karang yang baru tumbuh akan dicuri, bibit ikan hias yang baru dibawa serta akan ditangkap dan dijual kepada para kolektor untuk mendapat sumber nafkah, - demikian Prana.

Langkah-langkah pertama seorang keturunan raja yang sangat berwibawa ini adalah memberikan dana untuk merenovasi pura setempat, membolehkan membuka sebuah kios di resort milik sendiri di mana para nelayan menjual suvenir buatannya yang sederhana.

Selama proyek ini diterapkan penting sekali membuktikan bahwa ketika terumbu karang sedang tumbuh, memang ikan akan kembali, - ujar Prana. - Dengan kembalinya ikan wisatawan kembali juga sedangkan penduduk setempat mendapat sumber nafkah baru karena pertama-tama kami berusaha menciptakan lowongan kerja bagi mereka. Alhasil, nilai seekor ikan jauh lebih tinggi ketika ikan itu masih di laut dan banyak wisatawan yang dapat menikmatnya.

Ketika para nelayan menjadi yakin akan hal itu, seluruh penduduk desa memboikot "rayap" yang tak seberapa banyaknya sehingga "rayap-rayap" itu terpaksa menolak cara lama. Kini mereka sendiri membela proyek ini dari warga desa tetangganya.

Mereka mengerti bahwa proyek ini miliknya sendiri dan anak-anaknya, bahwa ini masa depan mereka, - tegasnya Prana, - kini datang gilirannya beralih dari penangkapan ikan ke pemeliharaan ikan yang akan kami usahakan diajarkan kepada penduduk setempat.

Kini kami dipanggil ke berbagai tempat, - demikian Prana, - baik para pemilik tempat rekreasi tirta (menyelam), maupun pemerintah setempat di berbagai pelosok Indonesia mulai sadar akan prospek-prospek tehnologi yang tidak begitu mahal dan telah berhasil percobaannya. Tetapi kami akan datang baru setelah mengetahui bahwa penduduk lokal telah siap sedia.

Mikhail Tsyganov, koresponden RIA Novosti
Nusa Dua – Melingih – Pemuteran – Seminyak – Ubud – Umabian

Read also in

English

Russian

Home | About Us | Contact Us | Special Feature | Features | News | Magazine | Events | TV | Press Release | Advertise With us

Our Products | Work with us | Terms of Use | Site Map | Privacy Policy | Refund Policy | Shipping/Delivery Policy | DISCLAIMER |

Version 5.0
Copyright © 2006-2017 TIME INTERNATIONAL MANAGEMENT ENTERPRISES CO., LTD. All rights reserved.
Bangkok, Thailand
asean@aseanaffairs.com